Umur Umat Islam Tinggal 59 Tahun Lagi??

18 12 2009

Menurut Muhammad Amin Jamaluddin, ketika beliau menafsirkan beberapa hadits mengenai umur ummat Yahudi, Kristen, ummat Islam, diisyaratkan umur ummat Islam itu 1500 tahun. Sekarang sudah 1428 Hijriah, jadi tinggal 72 tahun lagi. Itu belum dipotong waktu perjuangan Muhammad ketika di Makkah, yang memakan waktu 13 tahun. Jadi umur ummat Islam tinggal kira-kira 59 tahun.

Nah, kalau masa kekhalifahan di akhir zaman –yang menurut hadits akan
berlangsung 40 tahun– terjadi pada masa damai, maka huru-hara besar itu
akan terjadi dalam kurun waktu kurang dari 23 tahun ke depan ini.
Kemunculan khilafah akan didahului oleh terjadinya huru-hara, dimana
kaum Muslimin berada di bawah komando Imam Mahdi.

Kemunculan Imam Mahdi juga akan ditandai dengan munculnya bintang
berekor atau komet. Menurut yang saya dengar dari para astronom, komet
akan muncul tahun 2022. Jadi kalau pada saat itu muncul Imam Mahdi,
sebuah perhitungan yang sangat mungkin. Bisa jadi kemunculan Imam Mahdi
justru akan lebih cepat daripada itu.

Berikut kutipan dari penuturan Ust Ihsan Tanjung mengenai hari akhir zaman:

Apa ciri-ciri khusus Imam Mahdi itu?
Menurut Rasulullah Saw, namanya seperti nama Rasulullah dan ayahnya pun
sama dengan ayah Rasulullah.

Saat muncul, Imam Mahdi berusia berapa?
Kira-kira seusia Nabi ketika pertama kali perang. Rasulullah pertama
kali perang ketika usianya sekitar 55 tahun, Perang Badar.

Kalau begitu, saat ini sebenarnya Imam Mahdi sudah ada ya?
Ya, sudah ada, tapi oleh Allah Swt belum dimunculkan. Kalau sekarang
kita tidak tahu Imam Mahdi itu siapa, bukan hal yang aneh, karena memang
ia fenomena yang akan muncul mendadak.

Bukankah sudah ada beberapa orang yang mengaku sebagai Imam Mahdi?
Tidak bisa. Imam Mahdi itu dibaiat oleh 313 pemuda di Ka’bah. Jumlah itu
sama dengan pasukan Perang Badar. Baiatnya bersifat terbuka, meskipun
sebenarnya Imam Mahdi enggan dijadikan pemimpin. Kalau ada yang
mengaku-aku Imam Mahdi, itu omong kosong.

Apakah kelak Imam Mahdi akan memimpin kekhalifahan Islam?
Ya. Sebelum itu ia akan memimpin beberapa peperangan dalam rangka
meruntuhkan Tatanan Dunia Baru ini. Perang meruntuhkan maalikan
jabariyan (penguasa diktator) ini dimaksudkan untuk mewujudkan The Next
World Order (Tatanan Dunia Kelak).

Peperangan apa saja itu?
Ada empat perang besar. Pertama, perang melawan penguasa semenanjung
Arab. Kaum Muslimin menang. Kedua, perang melawan penguasa zhalim
Persia, juga menang. Ketiga, pe rang melawan Rum atau Eropa, juga
menang. Terakhir perang melawan Dajjal dan 70 ribu tentara Yahudi.

Ketika Imam Mahdi sedang berkonsolidasi di Damaskus (Suriah), waktu
shalat Shubuh tiba. Iqamat dikumandangkan, lalu Imam Mahdi hendak maju
menjadi imam. Muncul tanda besar kedua akan terjadinya hari kiamat,
yaitu Isa ‘Alaihissallam (As) turun di Menara Putih, masjid sebelah
timur Damaskus.

Imam Mahdi memohon agar Isa yang menjadi imam shalat. Namun Isa As
menolak, “Demi Allah, inilah kelebihan ummat Muhammad, sebagian engkau
menjadi pemimpin sebagian ummat lainnya. Engkau pemimpin ummat ini,
Imam Mahdi, Engkau yang memimpin shalat. Aku menjadi ma’mum.”

Sesudah shalat, mereka bertolak menuju hari bertemunya dua pasukan.
Yaitu pasukan kaum Muslimin yang dipimpin Imam Mahdi dan Nabi Isa As,
melawan pasukan Yahudi yang dipimpin Dajjal.

Perang ini terjadi dimana?
Persisnya saya tidak tahu, tetapi tidak jauh dari Baitul Maqdis.
Menurut hadits, ketika melihat Isa As dari kejauhan, Dajjal “mengkerut”
lalu berusaha kabur. Ia dikejar terus oleh Nabi Isa sampai akhirnya
terbunuh di pintu Lod, salah satu pintu masuk ke Baitul Maqdis. Dajjal
tewas tertusuk tombak. Nabi Isa As lalu mengangkat tinggi-tinggi tombak
itu, supaya orang-orang yang selama ini percaya pada Dajjal dan
menganggapnya sebagai Tuhan, menyadari bahwa sikap itu keliru.

Kekhalifahan nanti pusatnya dimana?
Pusatnya di Baitul Maqdis.

Setelah umur ummat Islam berakhir, apa yang terjadi kemudian? Menurut
hadits, setelah khilafah berdiri, kemakmuran akan terjadi dimana-mana.
Pada masa itu tetap ada orang kafir, sampai pada masa tertentu Allah Swt
mendatangkan tanda akhir zaman, yaitu hembusan angin sepoi-sepoi
dari arah Yaman (selatan). Itu terjadi setelah wafatnya Isa Ibnu Maryam.
Semua orang Islam, hatta yang hanya punya keimanan sebiji zarah,
akan menghirup udara itu dan meninggal dengan damai.
Ya sudah, selesai. Berakhirlah umur ummat Islam.

Di dunia tinggal ummat yang kafir 24 karat. Terjadilah kekacauan dan
kehancuran luar biasa, karena tidak ada lagi amar ma’ruf nahiy munkar.
Nabi menggambarkan, saat itu manusia tak akan malu-malu bersenggama
seperti keledai di jalanan. Makkah dan Madinah dihancurkan, sehingga
datanglah kiamat yang mengerikan. Alhamdulillah, ummat Islam tidak akan
mengalami fase penghancuran yang amat mengerikan itu.

Tidak banyak ulama atau ustadz yang concern bicara tentang tema akhir zaman.

Ihsan Tandjung pun menyadari hal itu. Bahkan ia kerap mendengar
celoteh masyarakat, yang mengungkapkan ketidaksukaannya kepada muballigh
yang bicara tentang akhir zaman, syurga, dan neraka. “Masyarakat kita
menganggap kehidupan akhir zaman sebagai hal yang tidak penting,”
Ihsan menyimpulkan.

Meski begitu, Ihsan tetap percaya diri untuk terus maju. Imam Mahdi,
Dajjal, Armageddon, kiamat, adalah kosakata yang kerap meluncur dari
bibirnya ketika ceramah. “M asyarakat harus terus diingatkan,” alasannya.

Ihsan juga terus mengingatkan agar kaum Muslimin waspada terhadap fitnah
kaum Yahudi yang mengepung dari segala penjuru. “Dunia saat ini memang
sangat tidak ramah terhadap nilai-nilai keimanan,” ujarnya sewaktu
ceramah di sebuah instansi pemerintah di Jakarta.

Konflik kaum Muslimin dengan Yahudi memang sudah sunnatullah. Ihsan
menyebutnya sebagai sunnah at-tadafu’ al-insany (ketentuan Ilahi berupa
pergolakan antarmanusia). “Konflik antara ummat Islam dan Yahudi
Adalah konflik hakiki,” kata penulis buku “Pertarungan Abadi” ini.

Selain tema-tema memahami zaman, Ihsan juga rajin menyerukan digalangnya
ukhuwwah antar harakah Islam. Menurutnya, jika kita menghayati desain
besar Allah untuk mengakhiri zaman ini, maka berbagai friksi dan
ketegangan yang terjadi di antara gerakan Islam menjadi kurang relevan.
“Kita harus semakin rajin merapatkan barisan, seperti pada shalat
berjama’ah,” katanya.

Menurut Anda, kenapa tema tentang akhir zaman kurang disukai oleh
masyarakat?

Tidak aneh, sebab itu sudah diisyaratkan Nabi sejak
berabad-abad yang lalu. Kata Rasulullah Saw, “Dajjal tidak akan muncul
sebelum ummat manusia lupa membicarakan Dajjal dan imam-imam di mimbar
pun tidak menerangkan lagi tentang Dajjal.”

Rasulullah juga sudah menganjurkan agar kita berdoa usai membaca tahiyat
akhir di setiap shalat, seperti diriwayatkan Imam Bukhari. Isi doa itu
adalah permohonan agar kita terhindar dari fitnah jahanam, fitnah dunia,
dan fitnah Dajjal. Sayang, ummat Islam sering mengabaikan masalah ini.

Kenapa Anda concern bicara tentang tema ini?
Huru-hara akhir zaman itu sudah sangat dekat. Ummat harus diingatkan.
Kalau tidak, saya khawatir mereka tidak sanggup mengantisipasi huru-
hara atau munculnya Imam Mahdi itu. Misalnya, bila nanti Imam Mahdi
muncul, mereka tidak bergabung tetapi malah mencaci maki. Bisa saja
nanti CNN akan memberitakan bahwa Imam Mahdi itu seorang teroris. Kalau
kita ikut-ikutan, kan repot.

Selama ini, tema akhir zaman biasanya cuma menjadi serpihan-serpihan
lepas dari tema yang lain. Padahal Nabi telah menjelaskan kepada kita
akan adanya grand design dari Allah. Mestinya ummat berlomba-lomba untuk
menyesuaikan diri dengan grand design itu, yang pasti akan tetap
berjalan terlepas apakah kita setuju atau tidak.

Kita jangan cuma mengandalkan otak sendiri dalam merancang perjuangan.
Kekalahan ummat Islam saat ini sudah amat parah, bagaimana otak kita
akan mengalahkan musuh? Kalau kita di suruh membuat pesawat F-16, Belum
tentu dalam waktu 100 tahun bisa. Tentu saja kita tidak boleh menjadi
fatalis. Kita harus berbuat semaksimal mungkin. Dan ada satu momentum
yang harus diantisipasi. Begitu momentum itu datang, namun kita tolak,
maka berarti kita kehilangan peluang untuk menjemput kemenangan. Kita
harus terlibat di dalamnya.

Ada sebagian orang berpendapat, hadits-hadits tentang akhir zaman itu
derajatnya tidak sampai mutawatir. Bagaimana menurut Anda? Saya ini
bukan ahli hadits ya. Tetapi tanda-tanda akhir zaman yang ditulis para
ulama rasa-rasanya tidak pernah luput membahas tentang Imam Mahdi.

Apa yang seharusnya dilakukan ulama, berkaitan dengan huru-hara akhir
zaman? Mestinya para ulama banyak berbicara tentang ini, harus bisa
menjadi sumber ilmu bagi kita. Anehnya, justru orang yang menulis
buku-buku akhir zaman berasal dari orang teknik. Misalnya Amin Muhammad
Jamaluddin, penulis buku “Umur Ummat Islam”, berlatar belakang insinyur.
Belakangan ia baru menempuh S-2 di Fakultas Da’wah Universitas Al-
Azhar, Kairo. Bukunya itu betul-betul spektakuler dan menjadi
best-seller.

Kenapa bukan ulama yang menulis itu? Jangan-jangan ini sebuah isyarat
bahwa kelak ketika Imam Mahdi datang, beberapa ulama akan menolak
sebagaimana pendeta-pendeta Yahudi-Nasrani menolak Nabi Muhammad.
Tidak mustahil pula ada aktivis harakah yang akan menolak kedatangan
Imam Mahdi itu. Dan sebaliknya, orang Islam yang saat ini masih
bergelimang kemaksiatan tidak mustahil bisa menjadi prajurit-prajurit
yang bergabung dalam barisan Imam Mahdi. Beragama itu bukan urusan ilmu
semata, tapi juga amal.

Anda pernah mendiskusikan dengan para ulama tentang kekhawatiran di
atas?

Secara formal belum.

Anda berencana melakukannya suatu saat?
Pasti. Tapi tunggu dulu lah, sebab sebagian mereka sekarang sedang Sibuk
menyongsong 2004 (sambil tersenyum). Nanti kalau suasananya sudah adem.

Dengan tema ceramah futuristik tentang akhir zaman, apakah pernah ada
orang yang menilai Anda sebagai ustadz yang suka menjadi pengkhayal?
Alhamdulillah belum ada. Tetapi banyak yang bertanya, misalnya tentang
kemunculan Isa Al-Masih. Bukankah ini bertentangan dengan dalil Al-
Quran yang menyatakan bahwa Muhammad adalah Nabi terakhir? Tidak, karena
Isa As nanti datang tidak menjadi Nabi yang membawa kitab baru. Ia
menyempurnakan tugas yang belum sempat dikerjakan dulu, yaitu mengajak
kembali ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) untuk masuk Islam.

Ada pula sunnah yang belum dikerjakan Isa As, yaitu menikah. Padahal
beliau kan pengikut syariat Muhammad. Ada beberapa hadits shahih yang
berisi tentang Isa as akan menikah.

Isa As akan turun dalam usia 33 tahun, persis seperti usia ketika dia
dulu diangkat Allah Swt ribuan tahun lalu. Ibarat tape recorder, Isa as
sekarang ini sedang “pause”, nanti turun akan “play” lagi. Kelak,
menurut hadits, Isa As akan wafat dan dimakamkan di dekat pemakaman
Rasulullah, Abu Bakar, dan Umar di Masjid Nabawi. Saat ini tempat itu
masih kosong, dan memang disediakan untuk Nabi Isa As.

Ihsan Tandjung dilahirkan di Kualalumpur (Malaysia), 24 Agustus 1961.
Masa kecil sampai remaja bungsu dari lima bersaudara ini banyak
dihabiskan di luar negeri. Maklum, ayahnya, Zainal Arifin Tandjung
(almarhum) adalah seorang diplomat. Ibunya, Zulhana Nasution. Keluarga
diplomat ini baru bisa tinggal tetap di Jakarta setelah sang kepala
keluarga pensiun. Saat itu Ihsan duduk di bangku SMA. Lulus sekolah
lanjutan atas, Ihsan melanjutkan kuliah di Fakultas Psikologi
Universitas Indonesia.

Selama di kampus, pria ramah ini banyak terlibat dalam kegiatan
keruhanian. Namun, karena semakin gelisah berhadapan dengan ilmu
psikologi yang sudah banyak dipengaruhi pemikiran sekuler dan atheis,
Ihsan berhenti kuliah. Ia menekuni bahasa Inggris di universitas yang
sama, dan bahasa Arab di LIPIA, Jakarta.

Pada tahun 1984, Ihsan kerap mengisi pembinaan ruhani pelajar SMA di
wilayah Jakarta dan sekitarnya. Sejak itulah ia terbiasa tampil di atas
mimbar. Bahkan kemudian Ihsan sering diundang ceramah ke luar negeri.

Saat ini wajahnya kerap menghiasi layar televisi. Bagi pelanggan
Al-Quran Seluler via telepon genggam, suaranya tentu tak asing lagi.
Sebuah situs berita di internet bernama Eramuslim juga memintanya
menjadi konsultan keluarga. “Yang ini lebih banyak ditangani istri
saya,” kata suami Siti Aisyah Nurmi Bachtiar ini.

Kini jadwal ceramahnya semakin padat. Tak jarang, dia sudah harus
meninggalkan rumah sebelum Shubuh untuk mengisi ceramah. Bulan Ramadhan
mendatang, jadualnya sudah full. Ketika Hidayatullah mewawancarainya,
Ihsan secara berurutan dalam sehari harus mengisi pengajian di tiga
tempat yang berbeda. Di sela-sela acara itu, Ihsan menyempatkan pulang
sejenak untuk “menyapa” keluarganya. Baru kemudian berangkat ceramah lagi.

Ihsan Tandjung tinggal di Kelapa Dua, Depok (Jawa Barat), bersama istri
dan sembilan anak yang sangat dicintai dan mencintainya.

Jadwal ceramah Anda cukup padat. Apakah tidak pernah merasa letih untuk
berda’wah? Kalau letih fisik ya jelas dong. Tetapi letih dalam arti
mental, alhamdulillah tidak. Bagi saya, da’wah adalah kegiatan yang
sudah melekat dalam hidup.

Apa resepnya agar tetap bersemangat di jalan da’wah?
Terus membuka mata dan telinga. Akan tampak jelas di depan saya, kondisi
masyarakat sangat memprihatinkan. Itu membuat saya berpikir, ternyata
da’wah kita ini belum apa-apa. Malah saat ini aktivis da’wah dituduh
menjadi teroris.

Anda juga aktif berda’wah di luar negeri. Punya pengalaman yang
mengesankan? Banyak. Orang-orang Islam di luar negeri ramah-ramah. Saya
pernah bertemu orang Turki di sebuah masjid di Jerman. Ketika dia tahu
bahwa saya orang Indonesia, dia langsung mengajak saya ke sebuah ruangan.
Dia menunjukkan peta wilayah kekhalifahan Turki Utsmany yang membentang
dari Maroko (Afrika) sampai Maluku (Indonesia). “Inilah wilayah kita,
tapi dulu,” begitu katanya.

Ketika di Arizona (AS), saya ketemu dengan seorang pemuda yang mengaku
lahir di Palestina. Saya memperkenalkan diri dengan nama panggilan di
rumah, yaitu Abu Izzuddin. Karena salah satu anak saya bernama Izzuddin
Al-Qassam. Dia langsung memeluk saya, erat sekali. “Ketika Anda menyebut
nama salah seorang tokoh pejuang yang betul-betul membela Palestina,
saya jadi yakin bahwa orang seperti Anda inilah yang akan ikut
membebaskan Palestina,” katanya.

Ada pengalaman yang tidak menyenangkan?
Ada, masih di AS, sekitar tahun 1994. Saya diundang ceramah di Islamic
Centre oleh orang Malaysia di sana. Dia berkata, “Maaf Ustadz, yang
dengerin ceramah cuma orang Indonesia.” “Kenapa?” saya tanya. “Kalau
kita mengadakan acara pengajian terbuka, Muslim dari berbagai negara
pasti datang kecuali dari I ndonesia. Kalau ustadznya dari Indonesia
Dan undangannya dikhususkan untuk orang Indonesia, insya Allah mereka
akan datang.” Kenapa bisa begitu? Dia menjawab, “Karena orang Indonesia
jarang ke masjid.”

Rupanya, orang Indonesia kalau kumpul ya sesama orang Indonesia saja.
Itupun tidak di masjid. Menurut pandangan teman Malaysia itu, orang
Indonesia di luar negeri seperti katak dalam tempurung. Ini fenomena
yang memang sering saya jumpai. Kalau kita ke Islamic Centre atau
masjid, kita akan mudah menjumpai kaum Muslimin dari Arab, Mesir,
Pakistan, Bangladesh, tetapi jarang menemui orang Indonesia. Ini
sekaligus kritik kepada para da’i, termasuk saya. Kita harus lebih
gencar menyerukan kepada orang Indonesia ini agar gemar shalat di masjid.*


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: